Sebenernya sih, tugas tim functional itu sebatas proses bisnisnya saja. Kalau mereka sampai mengerti tabel, bagus lah. Tapi itu sudah tehnikal banget. Yang seharusnya dibuat oleh tim functional adalah Functional Spec (FS) / Functional Design (FD). Spec ini harus menggambarkan bagaimana prosesnya berjalan, seperti apa. Spec tidak harus tertulis tabel-tabel yang diperlukan, tapi cukup diberitahu cara kerjanya saja, field-field yang mau ditampilkan (untuk report), tcodenya, dll.
Nanti spec ini dibaca oleh Koordinator ABAPer. Selanjutnya, Koordinator ABAPer akan membuat Technical Design (TD), dimana terdapat kode2, tabel2 beserta link antar tabel, function yang dipakai, dan informasi teknis lainnya yang berhubungan dengan program. Setelah TD selesai dibuat, koordinator ABAPer akan meng-assign salah satu ABAPer untuk membuat program sesuai dengan TD nya. Setelah program selesai, koordinator ABAPer akan mengetesnya. Dan kalo sudah OK, koordinator ABAPer akan minta functional untuk test. Dan kalo sudah OK juga, maka functional bisa minta user untuk mengetesnya atau kalau perlu mentraining bagaimana cara menjalankan program tersebut. Dan program siap dinaikkan ke mesin production sesuai dengan rencana.
Tapi dalam kenyataannya, tidak selalu seperti itu. Functional saat ini disarankan mengerti tabel2 dan relasinya, dan koordinator ABAP hanya meng-qa program. Sehingga FD selain memuat bisnis proses, juga memuat data-data tehnikal seperti tabel, dll.
Menjadi koordinator ABAPer tidaklah mudah. Karena dia harus meng-qa program sebelum ditest oleh functional, dan harus jago mendebug dan familiar dengan tabel-tabel SAP. Karena apapun request functional, dia harus bisa mencarikan solusinya.
Ada yang mau menambahkan? Atau mau dibahas? Yuq kita diskusikan. Karena sesungguhnya bersama kesulitan terdapat suatu kemudahan.
pak syasir,
bisa kasih contoh FS ngga, biar ada gambaran dikit,
bagaimana template FS itu
salam
dt