Pernahkah kita mengetahui bagaimana cara mengarsipkan data di SAP? Apakah dengan mengkompres (zip) data, atau kompres tabel, atau memindahkan data ke tabel lain, atau mungkin ada tehnik lainnya.
SAP sudah mempunyai tehnik pengarsipan sendiri. Kalau mode kompresi dinyalakan untuk suatu periode, maka dalam periode tersebut data-datanya diarsipkan. Ditaruh di tempat yang berbeda. Sehingga tempat yang biasa ditempati bisa lebih longgar.
Bagaimana cara pengarsipannya? Wah, tidak bisa dishare di sini sepenuhnya. Tapi secara singkat, sebutlah salah satu toolsnya yaitu dengan tcode SARA dan SARI. Kita mendaftarkan tabel-tabel yang mau diarsipkan, dan juga fieldnya. Fieldnya terbatas, jadi jangan semua field kita daftarkan.
Setelah pengarsipkan diaktifkan, maka pada transaksi standard SAP (khususnya report) di selection screen nya ada tambol “Data Sources”. Apabila kita click ini, akan keluar pilihan 2 checkbox: “Database” dan “Archive Table”. Kita bisa pilih keduanya. Hebat yah … Sayang aku tidak bisa capture tampilannya. Tidak etis, karena ini bukan di mesinku.
Jadi ketika metode pengarsipan diaktifkan, SAP akan mengubah logical database report standard. Yaitu dengan menambah tombol itu.
Pengambilan data dari Archive Table sedikit lebih lama. Karena dia disimpan dalam file yang dikompresi, dengan index sesuai dengan key yg kita define dalam metode pengarsipan. Tapi lebih efektif karena memang seharusnya data yg diarsipkan adalah data yg sudah hampir tidak digunakan lagi, kecuali untuk keperluan khusus.
Pertanyaan selanjutnya: Trus bagaimana dengan program2 yg kita buat. Apakah bisa mengambil data yg sudah diarsipkan? Jawabnya: Bisa. Coba debug di logical database. Function apa yang dia panggil untuk mendapatkan datanya (membuka filenya). Panggil deh function itu. Trus gimana kalau program yg dibuat sudah banyak? Coba pilah mana program yang cenderung memakai data current, atau data history. Kalau data history, ya harus diubah. Tapi kalau data current, ya gak perlu donk. Oke selamat mendebug