Setelah menikah, apa yang penting untuk dilakukan? Berbulan madu dengan kekasih. Ke mana? Gak penting ke mana, yang penting apa dan bagaimana. Kita belum banyak mengetahui istri/ suami kita, karena belum pernah berinteraksi lebih dekat. Jadi, gunakanlah momen berbulan madu itu untuk saling memberikan informasi kondisi dan pola hidup masing-masing. Tentunya ini tidak perlu dilakukan dengan formal. Yah, sambil saling bercumbu pun sah-sah saja.
Kebanyakan problematika rumah tangga di awal pernikahan adalah masalah komunikasi. Pernah saya baca, sampai sekitar 90% root cause permasalahan rumah tangga adalah masalah komunikasi. Contoh yang sederhana saja, tentang pola tidur. Sang suami biasa tidur tanpa ada cahaya. Tapi istri merasa pengap kalau gak ada cahaya. Nah, bagaimana solusinya. Masak solusinya harus beda kamar, atau pernikahan dibatalkan cuma karena beda hal2 seperti ini … Di sinilah gunanya komunikasi. Sampaikan kebiasaan2 kita sewaktu masih bujang. Apa yang menjadi kebiasaan, prinsip, hobby, dll. Semua saling terbuka. Gak perlu malu, ego, gak perlu minder, dan gak perlu sombong. Kalau sudah terlanjur lama berkeluarga, ada kemungkinan malu, atau ada ego nya.
Apa yang paling saya suka. Apa yang paling saya tidak suka. Apa yang paling saya harapkan dari kamu. Apa hal2 yang menjadi prinsip dari hidup saya. Apa kekurangan saya, yang saat ini belum bisa saya hilangkan. Apa pengalaman baik saya. Apa pengalaman buruk saya (kalau yg ini, kalau dirasa tidak ada gunanya, tidak perlu. Membuka aib yang selama ini Allah tutup adalah suatu dosa).
Setelah menginformasikan kondisi masing2, maka akan saling memahami. Dan kemungkina akan ada solusi toleransi atas adanya perbedaan. Inilah waktu untuk membicarakannya. Sebelum perbedaan ini berpotensi menjadi pemicu masalah rumah tangga.
Setelah menginformasikan keadaan masing-masing, dan membicarakan solusi toleransinya, selanjutnya adalah membicarakan perencanaan rumah tangga. Apakah (maaf) sudah siap berhubungan sex. Apakah sudah sama2 siap mempunyai anak. Kalau belum, kapan siapnya. Bagaimana dengan perencanaan jarak kelahiran. Rencana akan punya berapa anak. Bagaiamana dengan perencanaan tempat tinggal. Mau beli rumah di mana, rumah seperti apa yang diinginkan. Trus berlanjut ke perencanaan keuangan keluarga. Sebaiknya siapa yg mengontrol keuangan. Siapa yang pegang tabungan. Bagaimana merencanakan keuangan utk sekolah anak2, dll. Untuk diketahui saja, utk kuliah saja perlu sekitar dana sampe 100 jutaan. Kapan rencana haji. Trus gimana dengan pembagian pola kerja. Apakah suami setuju kalau istri kerja di luar, dan apakah istri setuju kalau suami bantu masak2 di rumah, dll.
Mumpung masih awal2 menikah, kan semangat persatuan dan kesatuannya cukup bagus. Jadi, semua hal mestinya bisa disikapi dengan lebih positif. Gunakanlah kesempatan ini sebaik-baiknya, dalam periode bulan madu. Bulan madu gak harus di Bali, atau ke LN. Di rumah mertua pun gakpapa. Yang penting hal yang dilakukan dalam bulan madu.
Bagaimana kriteria keberhasilan bulan madu. Berhasil atau tidaknya bulan madu, tidak bisa dilihat langsung. Tetapi ketika ada suatu kasus. Misalnya, istri hilang di mall dan gak bisa dicall. Apakah suami tahu, kira2 istri akan bisa ditemukan di mana. Atau suami terlambat pulang. Kira2 istri akan marah2, atau sudah tahu kenapa koq terlambat dan kira2 apa sebabnya. Ini bukan contoh real, cuma sekedar contoh penyederhanaan saja.
Mengetahui keadaan istri/ suami juga bisa mengurangi fitnah. Misalnya semua orang bilang istri anda selalu berjalan memutar ketika pergi dan pulang. Ada fitnah bahwa istri anda ada simpati dengan laki2 lain. Anda tidak akan cemas atau kuatir. Karena istri sudah pernah katakan, bahwa dia sering berjalan memutar krn menghindari adanya anjing di samping rumah.
Apakah perlu banyak waktu untuk membicarakan ini semua? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Tergantung sekompleks apa kehiduapan anda dan istri.
Ada seseorang yang saya kenal baik, dia pacaran dengan istrinya selama 6 tahun. Dan ternyata umur pernikahannya hanya sampai 3 bulan. Memang pacaran bukanlan solusi untuk perkenalan. Justru perkenalan (ta’aruf) yang sesungguhnya adalah setelah menikah. Kelamaan pacaran, bisa jadi kelamaan berbohong. Orang bisa saja berbohong ketika pacaran. Kan tidak ada komitmen. Tapi kl menikah, sudah jelas komitmen bersamanya. Berbohong berarti menggali lubang kuburan sendiri. Karena keluarga bisa menjadi surga dunia (baitii jannatii), bisa juga menjadi neraka dunia. Na’udzubillaah min dzaalik.